Jakarta – Ketahanan nasional Indonesia tak lagi bisa hanya diandalkan dari kekuatan senjata atau pertahanan militer konvensional saja. Ancaman yang mengintai kedaulatan negara kini berubah wajah: datang tanpa peringatan, menyusup lewat layar gawai, merusak fondasi ekonomi, hingga memecah belah persatuan dari dalam.

Itulah inti pemikiran mendalam dari kajian terbaru yang dirumuskan oleh Kombes Pol. Dr. H. Joseph Ananta Pinora, S.I.K., M.Si. Sebagai praktisi sekaligus akademisi lulusan Doktoral Universitas Indonesia, beliau memadukan pengalaman di lapangan dan kajian ilmiah dalam Strategic Intelligence Studies untuk merancang kerangka pertahanan negara yang lebih relevan dengan tantangan zaman.

Memetakan 32 Ancaman Serangan Hibrida yang Mengintai

Dalam publikasi ilmiahnya, Dr. Joseph memaparkan bahwa saat ini ada 32 jenis ancaman asimetris model serangan hibrida yang secara langsung mengganggu stabilitas keamanan nasional. Ancaman ini tersebar di tiga bidang utama:

✅ Infrastruktur Vital Negara
Mulai dari kerentanan jalur kabel laut penghubung internet nasional, serangan udara dan laut lewat drone, hingga gangguan pada sistem perangkat pintar atau Internet of Things yang kini mengelola banyak layanan publik.

✅ Dunia Siber dan Kecerdasan Buatan
Ancaman ini meliputi serangan perangkat lunak jahat yang mengunci data (ransomware), penyebaran berita bohong yang memanaskan suasana lewat media sosial, operasi akun palsu asing, hingga pengelolaan data besar dan kecerdasan buatan yang tak beretika.

✅ Kehidupan Sosial dan Berbangsa
Tak kalah berbahaya adalah kerawanan saat masa transisi kepemimpinan, perselisihan pengelolaan sumber daya alam, penyebaran paham radikal yang memicu perpecahan, hingga jaringan kejahatan keuangan terorganisir.

Kunci Keberhasilan: Gabungkan Kecerdasan Manusia dan Teknologi

Pengalaman menangani jaringan terorisme di wilayah sulit seperti Sulawesi Tengah mengajarkan satu hal penting: intelijen tidak akan berjalan maksimal jika hanya mengandalkan satu cara saja.

Baca juga  Ramadhan di Kodim 0714/Salatiga: Merajut Kebersamaan, Memperkuat Toleransi demi Salatiga yang Lebih Baik

Di dalam jurnal Kajian Stratejik Ketahanan Nasional UI, beliau menekankan perlunya “pernikahan” dua metode intelijen:
👉 Intelijen Manusia: Membangun kedekatan, kepercayaan, dan memahami kondisi sosial masyarakat setempat.
👉 Intelijen Teknologi: Memanfaatkan satelit dan pelacakan sinyal untuk mengetahui pergerakan kelompok berbahaya.

Dengan cara ini, potensi ancaman bisa dideteksi dan dinetralisir sejak dini, sebelum sempat menimbulkan kerusakan.

Potong Aliran Dana, Kunci Melumpuhkan Kejahatan Lintas Negara

Kelompok kriminal dan teroris tak bisa bergerak tanpa dukungan dana. Karena itu, kajian ini juga menempatkan ketahanan finansial nasional sebagai pilar utama.

Dr. Joseph menegaskan perlunya kerja sama erat antar instansi untuk memantau arus uang di seluruh lembaga keuangan. Dengan melacak dan memutus aliran dana, serta merebut kembali aset hasil kejahatan, kita tak hanya menjaga stabilitas ekonomi – tapi juga meruntuhkan kemampuan kelompok yang ingin merusak negara.

Ketahanan Nasional: Tanggung Jawab Seluruh Anak Bangsa

Bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), beliau menegaskan satu pesan tegas: TNI dan Polri tidak bisa berjuang sendirian.

Pertahanan negara butuh sinergi utuh: pemerintah, para ahli, tokoh masyarakat, hingga mantan narapidana terorisme yang kini telah bertobat dan berikrar setia pada NKRI. Semua elemen bangsa harus berjalan beriringan, menjadikan keberagaman bukan sebagai celah perpecahan, melainkan sebagai benteng terkuat kita.

“Ancaman zaman ini cerdik dan menyusup. Maka pertahanan kita pun harus cerdas, menyeluruh, dan bergerak bersama,” ujarnya.